Sekilas tentang kota sanggau




























Pada kesempatan kali ini, saya mau menceritakan sedikit mengenai kota Sanggau. Salah satu kota kecil yang ada di Kalimantan Barat. Jika membicarakan mengenai suatu daerah, pastinya selalu di dahului dengan sejarah berdirinya suatu negara itu. Tapi masalanya aku sendiri tidak tahu bagaimana sejarah berdirinya Kota Sanggau. Tapi saat duduk di bangku SMP, guruku pernah becerita bahwa berdirinya Kota Sanggau ini tidak lepas dari Kisah Dara Nante, mungkin kalian bisa cari sendiri kisahnya di Internet.
Kenapa diberi Nama Sanggau? Kalian beum tahu kan. Menurut yang aku dengar dari Guruku. Nama ‘Sanggau’ sendiri berasal dari nama tanaman yang tumbuh di tepi sungai daerah tempat berdirinya sebuah kerajaan , Yakni sungai Sekayam. Dan disebutkan juga dalam sejarah bahwa Sungai Sekayam merupakan tempat merapatnya rombongan yang dipimpin Dara Nante, seorang perempuan ningrat dari kerajaan Sukadana, yang saat itu mencari suaminya yang bernama Babai Cinga. Mungkin hanya itu sejarah yang aku tahu mengenai nama ‘Sanggau’.
Setelah membahas sedikit mengenai sejarah nama ‘Sanggau’. Kali ini kita akan mengetahui bagiaman keadaan wilayah Sanggau, dan juga mengenai penduduk Sanggau.
Sanggau adalah sebuah Kabupaten yang cukup luas. Luasnya mencapai 12.857,70 km² dengan kepadatan 29 jiwa per km². Dilihat dari letak geografisnya kabupaten sanggau terletak di antara 1° 10″ Lintang Utara dan 0° 35″ Lintang Selatan serta di antara 109° 45″, 111° 11″ Bujur Timur.
Keadaan daerah Sanggau bisa dikatakan perbukitan, jalannya naik turun dan rumah-rumah warga terlihat jarang. tempat wisatanya juga tidak terlalu banyak, yang aku tahu hanya ada dua yaitu ‘pancur aji, dan ‘Riam Macan’. Tempa wisata yang cukup indah, dengan pesona alam dan air terjun yang dapat memanjakan mata.
Penduduk di sana masih terbilang damai. Jarang sekali ada kasus pencurian, maling, perampokan, pembunuhan, dan kasus kriminal lainnya. Jauh sekali dengan keadaan di Kota temaptku berpijak saat ini, yaitu Kota Bogor, teledor sedikit barangpun melayang. Di sanggau  juga ada daerah yang bernama ‘Bogor’. jadi ternyata Bogor itu tidak hanya di Jawa. di Sanggau pun ada.
Dan tahukah kalian,  suasana di sana masih sangat sejuk,  apalagi jika pagi hari, dingin sekali, bahkan menurutku melibihi dinginnya kota bogor. Itu semua mungkin karena lebih dari 65% wilayah Sanggau adalah hutan, jadi suasana sejuknya masih sangat terasa. Tapi meskipun demikian, Jika siang hari keadaannya sangat lah panas, mungkin karena pengaruh dari letak kota Sanggau yang berada tidak jauh dari garis Kathulistiwa, dimana matahari tepat diatas kepala.
Aktivitas di bidang pertanian dan perkebunan  menjadi konstribusi terbesar dalam kegiatan ekonomi daerah Sanggau, dan sepertinya komoditas kelapa sawit dan karet masih menjadi incaran para investor. Menurut data yang aku dapatkan, di Kabupaten Sanggau tidak kurang dari 11 perusahan besar, baik itu swasta, naional, maupun asing telah menanamkan modalnya di perkebunan kelapa sawit dan telah berproduksi. Perkembangan lalu lintas perdagangan kabupaten Sanggau juga sudah semakin lancar.
Sanggau adalah tempat kelahiranku, sebelum aku bersekolah di kota Bogor ini, aku tinggal di salah satu kecamatan yang ada di Sanggau, yaitu kecamatan kapuas, tepatnya tidak jauh dari sungai kapuas.  Pasti tahukan sungai kapuas, yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia. Panjang sungai kapuas mencapai 1.134 km. yang melewati beberapa kabupaten. Dan sungai ini merupakan rumah dari lebih 300 jenis ikan.
Tapi sayang. Belakangan ini sungai kapuas tercemar berat, akibat aktivitas penambangan emas di sungai ini. Walaupun telah mengalami pencemaran Sungai Kapuas tetap menjadi urat nadi bagi kehidupan masyarakat di sepanjang aliran sungai ini, bagi nelayan-nelayan pencari ikan. Sebagai sarana transportasi yang murah, Sungai Kapuas dapat menghubungkan daerah satu ke daerah lain di wilayah Kalimantan Barat. Dan selain itu juga merupakan sumber matapencaharian untuk menambah penghasilan keluarga dengan menjadi penangkap ikan. Dan sepertinya Sosial Budaya masyarakat Sungai Kapuas perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengingat pesatnya kemajuan teknologi dan informasi dapat mempengaruhi pola berpikir masyarakat di sekitar aliran sungai Kapuas.
Sebenarnya di Sanggau tidak hanya dilalui sungai kapaus, masih banyak sungai-sungai lain yang  ukurannya lebih kecil dari sungai kapuas. Selain dimanfaatkan hasil ikannya, sungai juga biasa dimanfaatkan warga sekitar untuk diambil pasirnya. Seperti yang dilakukan warga sungai sengkuang yaitu tempatkku tinggal, mereka memanfaatkan sungai untuk mengambil pasirnya, kemudian dijual dan sebagian ada yang dijadikan batako. Kegiatan seperti ini sangat berguna sekali, selain meningkatkan pendapatan warga, juga dapat mencegah terjadinya banjir, karena jika pasir disungai diambil terus, maka sungai akan semakin dalam, sehingga banjir jarang terjadi.
Tapi walaupun kawasan masyarakat disana dekat dengan sungai, banyak masyarakat lain yang tetap memanfaatkan air PDAM termasuk keluargaku. Mereka kebanyakan memanfaatkan sungai hanya sebagai sarana MCK. Sedangkan untuk minum tetap menggunkan air PDAM atau air hujan yang ditampung.
Banjir sangat jarang sekali terjadi di sana, dan kalau pun terjadi, banjir tersebut tidak terlalu meresahkan warga, karena rata-rata warga yang tinggal di pinggiran Sanggau sudah mengantisipasi dengan membuat rumah yang memiliki kaki yang tinggi, dan upaya lain juga dilakukan seperti peninggian jalan.
Di pagi hari mata kita akan selalu dimanjakan  dengan suasana pepohonan yang indah sekali, sangat sejuk dan nyaman sekali berteduh dibawahnya. Apalagi di sekeliling rumahku yang banyak di tumbuhi pohon karet. Setiap pagi petani-petani karet sudah siap dengan alatnya masing-masing, menoreh getah karet itu. Di sore hari nelayan-nelayan berkumpul menuju satu tempat yang akan membawa mereka kepada rizkinya masing-maisng, yaitu sungai. Tempat para nelayan mencari sedikit koin melalui ikan, untuk menambah kebutuhan hiupnya.
Di sanan tidak hanya ada suku dayak dan melayu, tapi banyak ragam suku, itu semua karena daerah kalimantan ini banyak penduduk yang merupakan transmigran dari beberapa daerah . Diantaranya adalah suku melayu, dayak, jawa, Madura, dan masih banyak lagi. Menurut sejarah, dahulu di Sanggau hanya terdiri dari dua suku. Yaitu suku Melayu dan Dayak. Suku melayu tinggal  di daerah  pinggiran sungai dan bekerja sebagai nelayan, sedangkan Suku Dayak tinggal di pedalaman, dan rata-rata bermata pencaharian dengan memburu. Dan sepertinya  penduduk terbesar di Sanggau ini  adalah suku melayu . Tapi disana orang jawa juga banyak, termasuk keluarga kami. Dan masyoritas penduduknya beragama Islam. Oleh karena itu Masjid sangat mudah sekali ditemui.
Untuk makanan khas daerahku ini mungkin tidak jauh dengan makanan khas orang melayu  yang ada di Sumatera yaitu ‘Lemang’. Hanya bedanya mungkin dari segi nama, kalau di tempatku lebih sering disebut dengan nama ‘ajan’. Tapi orang-orang sekitar tetap mengerti jika kita bilang ‘lemang’. Lemang adalah nama sebuah makanan yang biasa dibuat saat menyambut hari raya Idul Fitri. Biasanya satu hari sebelum lebaran, di depan rumah-rumah warga selalu ditemui lemang yang sedang dibakar. Cara membuat lemang adalah dengan memasukkan beras ketan,  santan kelapa, dan bumbu lainnya ke dalam bambu muda. Kemudian memanggang bambu itu ke bara api yang panas. Rasanya enak dan khas.
Ada juga makanan lain yang juga merupakan makanan favoritku, yaitu bubur pedas. Makanan yang sangat unik. Uniknya adalah, bubur ini tidak terasa pedas sama sekali, tapi entah mengapa di beri nama bubur pedas. Bubur ini terbuat dari berbagai macam sayuran yang di satukan dengan berbagai bumbu  dan diaduk menjadi sebuah bubur. Makanan yang sangat enak dan bergizi karena mengandung banyak sayur.
Jika dibandingakn dulu, Sanggau telah meningkat denga pesat. Dulu saat pertama kali ke kota Sanggau, yaitu sekitar berumur 4 tahun, aku masih ingat sedikit sekali kendaraan yang berlalu-lalang. Sedangakn sekarang, jalanan selalu penuh dengan kendaraan.
Dari segi pendidikan juga sekarang sudah semakin bagus. Banyak perbaikan-perbaikan rumah sekolah. Namun yang menurun adalah perilaku remajanya yang semakin jauh dari Islam. Sering terjadi tawuran , perkelahian, preman-preman remaja, perokok remaja. Semuanya sudah semakin rusak. Terutama juga para wanita yang tidak memiliki rasa malu lagi akan auratnya.
Sekian tulisan dari saya, mohon maaf jika ada kesalahan informasi yang saya tuliskan. Tak ada gading yang tak retak.

sumber:AnamGram


FOLLOW and JOIN to Get Update!

Social Media Widget SM Widgets




Demo Blog NJW V2 Updated at: 8/15/2015 05:16:00 am

ARTIKEL TERPOPULER